Rabu, 12 September 2012

Majalah Ngoce,media komunitas mantan pecandu dan mantan napi narkoba Semarang



 
Tidak puas dengan keberadaan media umum dalam memaparkan tulisan tentang narkoba, mantan pecandu dan mantan napi narkoba di Semarang membuat media sendiri, majalah Ngoce. Melalui majalah ini mereka suarakan kejujuran, pemberontakan sampai terapi kesembuhan lewat menulis. 

***
 “Aku makai dari kelas 3 SMP makai  jenis obat-obatan pil bego. Kelas 1 SMA gelek dan sabu. 2SMA jualan gelek sabu nya dah kurang. Malah sakau. Waktu kelas 2 SMA jualan ganjan buat nutup kebutuhan sakauku,”

Cerita  ini mengalir dari  Kosa, bekas pecandu dan napi kasus narkoba yang kini menjadi salah satu jurnalis di Majalah Ngoce Semarang. 

Kosa bertekad, melalui majalah Ngoce ini, dia dapat membantu kawan-kawannya untuk keluar dari jerat narkoba jika tidak ingin seperti dia. 

“ Total pake 10-11 tahun. Efek kesehatan? Hepatitis C. Liver. Rata-rata aku liat dari teman-teman yang lain putau suntik 90% hepatitis c. Aku ga pengen temen-temen ngalamin apa yg aku alamin, temen-temenku ku MD gara-gara OD, hepatitis liver pecah”tutur Kossa. 

Segala ide yang ada di kepala Kosa kini tertuang bebas lewat Majalah Ngoce. Majalah ini merupakan media komunitas bentukan LSM Performa, LSM pendamping para pecandu dan bekas pecandu Napza Semarang.
Menurut Ivone Sibuea, koordinator LSM Performa majalah Ngoce awal terbentuknya karena komunitasnya merasa tidak puas dengan keberadaan media umum dalam menyampaikan pemberitaan tentang narkoba. 

 “Kita kan temukan materi narkoba itu-itu mulu yang stereotipe. Jadi TV,baliho, stop narkoba. Narkoba itu maut neraka, tidak pernah memberikan edukasi buat kawan-kawan yang sudah terlanjur makai bagaimana? Bagaimana menyelematkan nyawanya? Bagaimana meperpanjang umurnya, bgaiamana keluar dari narkon.” Kata Ivone.

Seruan  ini meluas setelah melihat hasil riset yang dilakukan LSM Performa. 

“ Tahun 2007, riset pertama 12 kota, yang ke 2 ini cm 4 kota. Di kota-kota besar di Indonesia, tingkat pelanggaran Polisi terendah sampai tertinggi di provinsi masing-masing terjadi, dari penyuapan, kekersan pelanggaran HAM penangkapan yg tidak prosedural. 70% keatas terjadi dari kasus-kasus yg kita wawancararai,” tambah Ivone lagi.
Maka munculah Majalah Ngoce, media terobosan komunitas pecandu dan bekas pecandu napza untuk mencari jalur edukasi yang baru dan turut mengubah kebijakan. Majalah yang terbit satu bulan sekali ini  berisi kumpulan karya para pecandu narkoba. Isinya dari Laporan utama, feature, komik, profil dan  informasi mengenai narkoba.
Nama Ngoce diambil dari istilah Semarangan yang berarti, ‘kumpul sambil minum-minum’. Kumpul disini sekarang bermakna lain. Para bekas pecandu dan pecandu aktif napza, menyatu untuk menyuarakan perubahan melalui media.

Kosa, bekas pecandu berat putau yang kerap keluar masuk penjara ini didapuk untuk mengisi halaman feature. Tulisan yang dihasilkan,tanpa wawancara, cukup menuangkan pengalamannya secara natural. 

 “Tulisan yang paling diingat? Yang aku inget buprenorpin. Diberikan oleh dokter sebagai terapi subtitusi heroin. Buprenorpin , heroin sintetis. Nulisnya kan aku ga pernah melarang mereka pakai buprenorpin dengan cara apapun, kalo mau sembuh pakelah dengan cara yang benar, dengan cara sub lingual. Di taruh dibawah lidah mpe hancur sendiri,” 

Berbeda  dengan YOGA, bekas penikmat ganja yang didapuk membuat komik  ini mengaku menulis bukan sekedar menyampaikan ide tapi juga menjadi langkah terapi yang efektif .

 Satu hoby , dua karena niat juga buat terapi, terapi bagus juga.  Hubunganne apa? Nulis ma terapi? Buat ngalihin aja, harus pake harus pake, nulis kan bisa ngalihin, bisa cerita-cerita  narkoba Misalnya temen-teman cerita saya salin dulu terus saya kembangkan. Nama kan bukan asli, john ngoce atau lek rebo. Nama-nama lucu,” ungkap Yoga.
Hasil tulisan mereka memang tidak dibebani teori-teori jurnalistik yang muluk-muluk. Mereka hanya menulis testimoni. Tapi unggulnya kata Genry Amalo Pimpinan Redaksi Majalah Ngoce tulisan mereka lebih memiliki jiwa. 
“Bedanya pada nilai, soul kadang ada pengalamanan yang sulit. Tanpa  bermaksud deskriminiasi ada hal-hal yang tidak bisa dipahami oleh orang lain, pengguna napza, adiksi. Kenapa mereka mencuri? Karena adiksi. Kenapa mereka keluar masuk penjara, karena adiksi. Nah bagaimana menggambarkan adiksi, mereka lebih jelas mengungkapkannya. Wartawan menulis tanpa soul.kecuali jika wartawannya sendiri juga pecandu napza,” jelas Genry.

Layaknya media umum, Majalah Ngoce juga memiliki sasaran target pembaca. Bukan hanya di Semarang dan kota-kota lain di Jawa Tengah, peredaran Majalah Ngoce juga sampai ke Provinsi-Provinsi lain. Kata Ira Hapsari, koordinator media Performa, medianya memiliki sasaran khusus. 

“Bagi temen-temen yang gak menggunakan napza kalau baca pasti begini, ih kok kayak gini kok kayak ngajarin. Kita memang segmennya ke temen-temen yang menggunakan napza. Supaya bisa menjaga kesehatannya, tidak parah,” kata Ira

“ Sasarannya mereka yang rentan dengan napza, komunitas musik, keluarga pecandu dan lain-lain,” kata Ira lagi.

Isi di majalah Ngoce pastinya tidak mungkin didapat dari media umum. Menurut Ira, Masyarakat kita tercuci oleh spanduk-spanduk berprestasi tanpa narkoba, pakai narkoba masuk neraka, itukan buat masyarakat  jadi stigma juga bahwa pecandu itu tak berguna, pecandu tu sampah tapi tanpa membantu mereka menemukan jalan keluar dari jerat obat-obatan terlarang itu. 

Suryani, salah satu anggota keluarga dari pecandu napza, mengaku ringan membaca tulisan di Majalah Ngoce karena bahasanya mudah dimengerti. 

 “Terhibur sama tau dunia napza. Bantu seseorang biar berhenti, bisa. Dapetin majalah itu, Ya dibaca, kata-katanya mudah dipahami, kata-katanya ga ribet,”
Selain sederhana, Majalah Ngoce juga jujur. Mengungkap segala sisi kehidupan pecandu dan bekas pecandu narkoba.

 “12 jam digebukin tanggal 3 mei 2003, sabtu jam 11 siang kita ketangkep di kontrakan bandar. Habis tu langsung dibawa ke polres salatiga, begitu masuk di polres salatiga, kita di borgol semua di borgol mata kita di tutup ama plester, ngasi pelajaran justru gak dapet,”Ungkap Kossa lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar